![]() |
| Ilustrasi artikel. |
Dutaislam.or.id - Dengan penuh kelembutan hati, mari kita menyelami kisah agung seorang sahabat mulia: Abu Thalhah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Kisah ini bukan sekadar cerita sedekah, tetapi cermin tentang bagaimana iman bekerja di dalam hati—mengubah kecintaan dunia menjadi jalan menuju ridha Allah.
Allah Swt berfirman:
لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Artinya:
“Kamu sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”
Ayat ini turun dengan membawa getaran yang sangat dalam di hati para sahabat. Mereka bukan sekadar mendengar, tetapi meresapi, lalu bergerak. Di antara mereka, ada satu sosok yang hatinya paling tergugah: Abu Thalhah, seorang sahabat Anshar yang dikenal kaya dan sangat mencintai hartanya—khususnya sebuah kebun yang bernama Bairuha.
Kebun Bairuha bukan sekadar lahan biasa. Ia adalah harta paling berharga bagi Abu Thalhah. Letaknya dekat Masjid Nabawi, airnya jernih, pepohonannya rindang, dan Rasulullah Saw pun sering memasukinya dan minum dari airnya. Di sanalah kenangan, kebanggaan, dan kecintaan Abu Thalhah tertanam. Namun ketika ayat itu turun, cinta dunia itu diuji oleh cinta kepada Allah.
Tanpa menunda, Abu Thalhah mendatangi Rasulullah Saw dengan hati yang bergetar. Ia berkata dengan jujur dan penuh kesadaran bahwa ayat tersebut telah menyentuh inti kehidupannya. Ia tidak ingin menjadi orang yang tertinggal dari janji “al-birr”—kebaikan tertinggi yang dijanjikan Allah. Maka ia memilih sesuatu yang berat: melepaskan apa yang paling ia cintai.
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ أَبُو طَلْحَةَ أَكْثَرَ أَنْصَارِ الْمَدِينَةِ مَالًا مِنْ نَخْلٍ، وَكَانَ أَحَبَّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ بَيْرُحَاءُ... فَلَمَّا نَزَلَتْ: لَن تَنَالُوا الْبِرَّ... قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ كَذَا، وَإِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءُ، وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ...
Artinya:
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu: Abu Thalhah adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya berupa kebun kurma, dan harta yang paling ia cintai adalah Bairuha… Ketika turun ayat “kamu tidak akan mencapai kebajikan…”, ia berkata: “Wahai Rasulullah, Allah berfirman demikian, dan harta yang paling aku cintai adalah Bairuha. Maka aku jadikan ia sedekah karena Allah…”
Rasulullah Saw menyambut pengorbanan itu dengan penuh penghargaan. Beliau bersabda bahwa itu adalah harta yang “menguntungkan”, lalu mengarahkan Abu Thalhah agar menyalurkannya kepada kerabatnya. Betapa indahnya Islam: sedekah tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga mempererat hubungan keluarga.
Kisah ini mengajarkan bahwa iman bukan sekadar keyakinan dalam hati, tetapi keberanian untuk bertindak. Abu Thalhah tidak menunggu kaya lagi, tidak menunggu siap, tidak pula menawar dengan Allah. Ia langsung memberi—dan yang ia beri bukan sisa, tetapi yang paling dicintai.
Di sinilah letak refleksi terdalam bagi kita. Sering kali kita memberi dari yang mudah dilepaskan, bukan dari yang kita cintai. Padahal ayat ini mengajak kita naik ke level yang lebih tinggi: mencintai Allah lebih dari harta, kenyamanan, bahkan keterikatan emosional kita.
Akhirnya, kisah Abu Thalhah adalah pelajaran tentang kejujuran iman. Ia mendengar ayat, lalu menjadikannya nyata dalam hidup. Ia tidak hanya memahami Al-Qur’an—ia menghidupinya. Semoga Allah menanamkan dalam hati kita keberanian seperti beliau: berani memberi, berani ikhlas, dan berani memilih akhirat di atas dunia. [dutaislam.or.id/ai/ab]





