Iklan

Iklan

,

Iklan

Melanggengkan Ijazah Manaqib dan Surat Al-Waqi’ah Penarik Rejeki Melimpah

Duta Islam #05
30 Mei 2026, 19:27 WIB Ter-Updated 2026-05-30T12:27:34Z
Download Ngaji Gus Baha
apa itu ijazah manaqib syaikh abdul qodir jailani
Ebook Ijazah Manaqib Lujainud Dani.


Dutaislam.or.id - Ijazah manaqib adalah istilah yang cukup akrab di lingkungan pesantren, majelis dzikir, dan tradisi tarekat di Indonesia. Namun bagi sebagian orang, istilah ini kadang terdengar misterius. Ada yang mengira ia semacam “sertifikat spiritual”, ada pula yang menganggapnya sebagai ritual khusus yang sangat sakral. 


Padahal bila dipahami dengan tenang, konsep ijazah manaqib sebenarnya tumbuh dari budaya sanad dan penghormatan terhadap ilmu dalam Islam. Untuk memahami istilah ini, kita perlu melihat dua kata penyusunnya terlebih dahulu: “ijazah” dan “manaqib”.


Ijazah

Dalam tradisi Islam, ijazah berarti izin atau otorisasi dari seorang guru kepada murid. Sejak zaman dahulu, ilmu-ilmu Islam diwariskan melalui sanad, yaitu rantai transmisi dari guru ke murid. 


Karena itu, seorang murid seringkali tidak hanya belajar isi ilmu, tetapi juga menerima izin untuk mengajarkan, meriwayatkan, atau mengamalkannya. Tradisi ini sangat dikenal dalam hadits, qira’at Al-Qur’an, tarekat, hingga wirid dan doa-doa tertentu.


Manaqib

Sedangkan manaqib berasal dari kata manqabah (المنقبة), yang berarti keutamaan atau kemuliaan. Dalam praktiknya, manaqib adalah kisah tentang kehidupan, akhlak, perjuangan, karamah, dan keutamaan para wali atau ulama besar. 


Di Indonesia, istilah “manaqiban” biasanya langsung mengingatkan orang kepada pembacaan kisah hidup Syekh Abdul Qadir al-Jailani, karena beliau adalah tokoh yang paling populer dalam tradisi ini. Namun sebenarnya kitab manaqib tidak hanya tentang beliau. Ada juga manaqib ulama lain, wali, dan tokoh-tokoh saleh.


Ijazah Manaqib

Dari sini, “ijazah manaqib” secara sederhana dapat dipahami sebagai izin dari guru kepada murid untuk membaca, mengamalkan, mengajarkan, atau memimpin pembacaan manaqib tertentu.


Tetapi mengapa membaca manaqib sampai perlu ijazah?


Di sinilah letak unsur budaya dan spiritualitas Islam tradisional. Dalam banyak lingkungan pesantren dan tarekat, membaca manaqib tidak dipandang sekadar membaca biografi biasa. Ia dianggap sebagai bagian dari tradisi dzikir, tabarruk (mengambil berkah), dan penyambungan hati kepada orang-orang saleh. 


Pembacaan manaqib sering dilakukan dengan adab tertentu: ada tawassul, doa, susunan bacaan khusus, bahkan waktu-waktu yang dianggap utama. Maka ijazah di sini seringkali berfungsi sebagai bentuk adab kepada guru dan tradisi, bukan semata-mata syarat sah. 


Seorang guru seolah berkata kepada muridnya: “Saya mengizinkanmu meneruskan amalan ini sebagaimana saya menerimanya dari guru saya”.


Di sinilah budaya sanad terasa sangat kuat. Dunia pesantren memang terbiasa menjaga “jalur transmisi”. Bahkan bukan hanya kitab hadits yang punya sanad. Wirid, hizib, shalawat, hingga manaqib pun sering diwariskan dengan rantai guru yang bersambung.


Banyak orang kemudian memahami ijazah manaqib sebagai sambungan keberkahan. Artinya, seseorang tidak hanya menerima teks bacaan, tetapi juga menerima doa, restu, dan hubungan batin dengan para guru sebelumnya. Karena itu, sebagian orang merasa lebih mantap membaca manaqib setelah diijazahi.


Namun penting dipahami: ijazah manaqib bukan berarti orang yang tidak memiliki ijazah lalu haram membaca manaqib. Ini perlu dibedakan.


Kitab manaqib pada dasarnya adalah kitab sejarah dan kisah ulama. Selama isinya baik, maka membacanya secara umum tidak memerlukan izin khusus. Sama seperti membaca kitab sirah Nabi atau biografi ulama lainnya. 


Yang biasanya dianggap memerlukan ijazah adalah aspek-aspek tertentu, misalnya:


  • Memimpin majelis manaqiban,
  • Mengamalkan tata cara khusus,
  • Membawa amalan tertentu yang menyertai manaqib, atau
  • Menjadi penerus tradisi dalam jalur tarekat.


Sebagian tarekat bahkan memiliki susunan ritual yang cukup rinci. Ada pembukaan tertentu, tawassul tertentu, jumlah bacaan tertentu, hingga doa penutup yang diwariskan dari guru ke guru. Dalam konteks seperti ini, ijazah dipandang sebagai bentuk tanggung jawab dan keterhubungan sanad.


Menariknya, fenomena ijazah manaqib juga memperlihatkan bagaimana Islam Nusantara sangat menghargai hubungan guru dan murid. Di dunia modern, orang sering merasa cukup belajar dari buku atau internet. Tetapi dalam tradisi pesantren, keberadaan guru tetap dianggap penting. Ilmu bukan hanya soal informasi, tetapi juga adab, cara membawa ilmu, dan keberkahan dalam mengamalkannya.


Karena itulah, demi efisiensi berlangsungnya sanad ijazah manaqib, kini ada ijazah manaqib yang bisa diperoleh secara online tanpa harus bertemu mujiz (yang memberi ijazah). Silakan klik beberapa ijazah dalam bentuk ebook, di bawah ini: 


  1. Ijazah Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Lujainud Dani
  2. Ijazah Tirakat Surat Al-Waqi’ah Penarik Rejeki Melimpah
  3. Ijazah Cepat Jodoh Tiga Bulan
  4. Ijazah Kuat Menjimak Istri


Tentu saja, karena sifatnya ijazah, ada maharnya. Harganya sudah termasuk bagian dari maharnya. Terimakasih. [dutaislam.or.id/ab/ai]


Iklan

close
Cukup 40K