Iklan

Iklan

,

Iklan

Mbah Kiai Syamsuri Ungaran: Ulama Hijaz Trah Mbah Jago

Duta Islam #05
12 Jul 2026, 15:47 WIB Ter-Updated 2026-07-12T08:47:52Z
Download Ngaji Gus Baha
sejarah mbah syamsuri ungaran trah mbah jago
Mbah Kiai Syamsuri Ungaran, trah Mbah Jago Wringinjajar.


Oleh M. Abdullah Badri


Dutaislam.or.id - Diantara mata rantai keturunan Mbah Jago yang berperan besar dalam perkembangan Islam di wilayah Ungaran adalah Mbah Kiai Syamsuri. Sosok beliau memang tidak banyak dikenal di luar lingkungan keluarga besar dan masyarakat sekitar, namun jejak perjuangannya masih dapat ditelusuri melalui para murid, keturunan, jaringan ulama, serta lembaga-lembaga keagamaan yang hingga kini tetap berdiri.


Keberadaan banyak dzurriyah Mbah Jago di kawasan Ungaran seolah menjadi petunjuk bahwa daerah ini pernah menjadi salah satu pusat penyebaran dakwah keluarga besar beliau. Bahkan ketika Buyut Mbah Abdullah Mudzakir berusaha menelusuri garis keturunan dari jalur ibunya, beliau mendapat dawuh agar mendatangi wilayah Ungaran, khususnya Genuk. Juru kunci makam Mbah Jago, Sholihin, juga pernah mendapat dawuh untuk berziarah ke Gogik, Ungaran, kepada salah seorang kerabat leluhur yang bernama Mbah Zainuddin.


Nasab Mbah Syamsuri

Menurut riwayat keluarga, silsilah Mbah Syamsuri adalah: Syamsuri bin Mbah Tohir Jago bin Mbah Irsyad Jago bin Mbah Shodiq Jago bin Mbah Abdus Salam Prawirogomo, yang merupakan trah dari Sunan Bayat. Mbah Tohir Jago memiliki banyak putra-putri yang dikenal sebagai ahli ilmu dan pejuang dakwah. Di antaranya adalah:


  1. Mbah Zainuddin
  2. Mbah Muhammad Shodiq
  3. Mbah Hadi
  4. Mbah Toyyib
  5. Mbah Sulaiman
  6. Mbah Syamsuri
  7. Mbah Asiyah
  8. Mbah Syarifah
  9. Mbah Hasanan
  10. Mbah Asnawi


serta beberapa nama lainnya yang masih terus ditelusuri.


Menariknya, tidak sedikit putra Mbah Tohir yang menempuh perjalanan jauh hingga ke Tanah Hijaz untuk menimba ilmu. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Jago pada masa itu bukan sekadar sebuah desa biasa, melainkan telah berkembang menjadi lingkungan yang sangat kuat tradisi keilmuannya.


Sebagaimana pernah disampaikan oleh Kiai Zaenal, salah seorang dzurriyah Mbah Shodiq bin Mbah Tohir, "Jago pada masa itu merupakan wilayah peradaban ilmu". Ungkapan tersebut terasa sangat masuk akal. Bahkan terdapat kisah ketika salah seorang kerabat Bani Mbah Jago bersilaturahmi kepada Mbah Syamsuri (Kemusyu) keturunan Mbah Abdul Jalal Tlawah bin Mbah Hadi Girikusumo, beliau berkata dengan penuh keakraban:


"Kalau punya hajat mencari ilmu, bertawassullah kepada Mbah Tohir. Kalau hajat kehidupan lainnya, bertawassullah kepada Mbah Jago".


Ucapan ini menunjukkan bagaimana masyarakat memandang para leluhur tersebut sebagai sosok yang memiliki kekhususan dalam bidang masing-masing.


Menuntut Ilmu hingga Hijaz

Mbah Syamsuri termasuk ulama Jawa yang berkesempatan belajar langsung di Tanah Hijaz. Beliau tercatat sebagai murid Syaikh Mahfudz At-Termasi, salah satu ulama Nusantara terbesar yang menjadi rujukan para santri Indonesia di Makkah. Pengembaraan intelektual ini membentuk beliau menjadi ulama yang sangat disegani sepulangnya ke tanah air.


Setelah kembali dari Hijaz, Mbah Syamsuri menjadi salah satu tokoh utama penyebaran Islam di Ungaran. Kewibawaan dan kedalaman ilmunya membuat banyak keluarga ulama besar menjadikan beliau sebagai menantu. Beliau diketahui menikah dengan beberapa putri dari keluarga-keluarga ulama' terkemuka, yaitu:


  1. Mbah Nyai Khotijah binti KH. Abdur Rouf (kakek Mbah Manshur Popongan).
  2. Mbah Nyai Maemunah binti KH. Abdus Somad, kakak dari Mbah Nyai Towilah Bawen yang dikenal sebagai perempuan salehah.
  3. Mbah Nyai Rodiyah binti KH. Asror.
  4. Mbah Nyai Muslimah binti KH. Nasir.


Hubungan kekeluargaan tersebut memperlihatkan eratnya jaringan ulama Jawa pada masa itu dalam memperkuat dakwah Islam.


Salah satu kecerdasan Mbah Syamsuri adalah membangun dakwah melalui kaderisasi keluarga. Beliau mengundang dua keponakannya yang telah yatim, yakni Mbah KH. Abdurrahman dan Mbah KH. Fadhil, putra kakaknya Mbah Shodiq, agar ikut berdakwah bersama di Ungaran. Keduanya juga pernah menimba ilmu kepada Syikh Mahfudz At-Termasi ketika berada di Hijaz.


Mbah Abdurrahman kemudian dinikahkan dengan putri beliau, Mbah Nyai Fatimah. Setelah itu beliau ditempatkan di Jambon untuk mendirikan masjid dan pondok pesantren yang hingga kini masih dikenal sebagai Pondok Pesantren KH. Abdurrahman.


Adapun Mbah KH. Fadhil berdakwah di daerah Genuk, bawah Nyatnyono. Dari jalur keturunannya kemudian lahir para ulama yang juga mendirikan pesantren, di antaranya trah KH. Abdurrahman Suyuti.


Peran Mbah Syamsuri tidak berhenti di situ. Beliau juga mengajak Mbah Hadi Girikusumo untuk menetap di Ungaran, kemudian menikahkannya dengan kakak iparnya, Mbah Nyai Halimah (dikenal pula dengan nama Dasimah atau Hasyimah Pakubumine Siwarak).


Mbah Hadi kemudian dipercaya menjadi kiai di Kauman Ungaran. Dari keluarga inilah lahir tokoh-tokoh besar seperti Mbah Manshur Popongan dan Mbah Mashuri Banyubiru. Keturunan mereka kemudian mendirikan Pondok Pesantren Al-Manshur yang hingga kini masih aktif diasuh oleh para dzurriyahnya.


Menariknya, meskipun telah berkembang beberapa pusat dakwah, pelaksanaan salat Jumat tetap dipusatkan di Kauman sebagai bentuk penghormatan kepada Mbah Hadi yang lebih dahulu berdakwah di sana. Hubungan kekeluargaan ini semakin erat ketika Mbah Syamsuri juga menjadi besan Mbah Hadi melalui pernikahan putrinya, Mbah Nyai Umi, dengan Mbah Sirajuddin.


Setelah Mbah Sirajuddin berpoligami dan Mbah Nyai Umi memilih berpisah, beliau kemudian dinikahkan dengan salah seorang murid Mbah Hadi, yakni Mbah Supaat, keturunan Mbah Abu Wasijan. Mbah Supaat kemudian ditempatkan di Kretek untuk mendirikan masjid dan mengembangkan dakwah Islam di wilayah tersebut.


Selain aktif dalam pendidikan dan dakwah, Mbah Syamsuri juga dikenal memiliki perhatian terhadap perjuangan bangsa. Penerus beliau, terutama Mbah KH. Abdurrahman, bahkan disebut sering turun ke Semarang dengan menunggang kuda putih untuk membantu perjuangan melawan kolonial.


Semangat perjuangan tersebut diwariskan kepada generasi berikutnya. Hingga kini, banyak dzurriyah beliau yang tetap aktif berdakwah melalui berbagai bidang sesuai kemampuan masing-masing. Hal ini menjadi salah satu ciri khas trah Mbah Jago.


Diperkirakan Mbah Syamsuri wafat sekitar dekade 1920-an. Meski telah lama berpulang, jejak dakwah beliau masih tampak nyata melalui masjid, pondok pesantren, jaringan keluarga ulama, serta tradisi keilmuan yang tetap hidup hingga sekarang.


Salah satu riwayat menarik datang dari Kiai Nur Kholis Al-Asrori As-Syamsuri. Beliau pernah menceritakan bahwa saat masih kecil berkunjung kepada Mbah Syamsuri Kemusyu, beliau sempat tidak memperkenalkan diri sebagai keturunan Mbah Syamsuri Jambon. Ketika hendak pulang, Mbah Syamsuri Kemusyu justru memanggilnya kembali seraya berkata, "Lho, kok tidak bilang kalau kamu keluarga Syamsuri Jambon? Kamu itu anakku sendiri. Sana, minta makan dulu kepada Bunyai".


Ungkapan sederhana tersebut memperlihatkan kuatnya ikatan batin di antara sesama dzurriyah Mbah Jago meskipun telah terpaut beberapa generasi.


Menelusuri sejarah Mbah Jago memang bukan perkara mudah. Tradisi ulama'-ulama' sepuh Jawa pada masa lampau adalah menyembunyikan popularitas diri. Tidak sedikit yang sengaja menghindari pencatatan biografi selama hidupnya, bahkan hingga beberapa generasi setelah wafat. Akibatnya, ketika para saksi sejarah telah tiada, banyak bagian riwayat yang sulit direkonstruksi secara utuh.


Namun, seorang ulama tidak selalu dikenang melalui tulisan yang ia tinggalkan. Ada yang dikenang melalui kitab-kitabnya, ada yang hidup melalui murid-muridnya, dan ada pula yang tetap bercahaya melalui keturunan saleh yang terus melanjutkan perjuangannya.


Melihat jejak Mbah Kiai Syamsuri Ungaran beserta jaringan ulama dan pesantren yang lahir dari dakwah beliau, tampak jelas bahwa warisan terbesar yang beliau tinggalkan bukanlah bangunan atau kekayaan, melainkan mata rantai ilmu, dakwah, dan keteladanan yang terus hidup hingga hari ini. Rabbi fanfa'na bi barakatihim, wahdina al-ḥusna bi ḥurmatihim. Lahumul Fatihah. [dutaislam.or.id/ab/ai]


Keterangan:

Sumber keterangan ini dari Kiai Sholihin, juru kunci makam Mbah Jago Wringinjajar, Mranggen, Demak.


Iklan

close
Cukup 40K