![]() |
| Benarkah Nabi Adam Memiliki Ibu? |
Oleh Riyadlul Jinan
Dutaislam.or.id - Belakangan muncul sebuah pendapat yang cukup mengejutkan: Nabi Adam as dianggap lahir dari seorang ibu, sebagaimana Nabi Isa as lahir dari Maryam tanpa seorang ayah.
Pendapat ini muncul dalam sebagian pemikiran Islam kontemporer yang berusaha menghubungkan kisah penciptaan Adam dengan teori evolusi manusia. Namun, benarkah Al-Qur’an mengatakan demikian? Mari kita lihat secara sederhana.
1. Dari Mana Munculnya Pendapat Ini?
Salah satu tokoh yang terkenal dengan pembacaan Al-Qur’an secara modern adalah Muhammad Syahrur. Dalam pendekatannya, Syahrur memberikan perhatian besar kepada bahasa dan perbedaan istilah dalam Al-Qur’an. Ia tidak selalu memahami istilah-istilah Al-Qur’an sebagaimana pemahaman ulama tafsir klasik.
Metode inilah yang kemudian dikritik oleh Abbas Syarifah dalam kitabnya Naqḍ Manhajiyyah al-Qirā’ah al-Mu‘āṣirah li al-Naṣṣ al-Qur’ānī ‘inda al-Muhandis Muḥammad Shahrūr.
Salah satu kritiknya adalah bahwa kata-kata dalam Al-Qur’an tidak boleh dilepaskan dari konteksnya hanya karena seseorang menemukan kemungkinan makna secara bahasa. Ia mengatakan:
فالألفاظ التي أعطاها القرآن معنى خاصًّا بها، يجب الوقوف فيها عند ذلك المعنى والسياق، ولا ينبغي الانسياق في تقمُّص معانيها المعجمية اللغوية
Terjemah:
"Lafaz-lafaz yang oleh Al-Qur’an telah diberi makna khusus harus dipahami berdasarkan makna dan konteks tersebut. Tidak semestinya seseorang mengikuti begitu saja berbagai kemungkinan makna kamusnya..." (Naqḍ Manhajiyyah al-Qirā’ah al-Mu‘āṣirah, hlm. 18).
Ini adalah poin penting untuk memahami persoalan Adam.
2. Bagaimana dengan Ayat "Isa Seperti Adam"?
Allah Swt berfirman:
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Terjemah:
"Sesungguhnya perumpamaan penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti penciptaan Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah dia". (QS. Āli ‘Imrān: 59).
Ayat ini terkadang dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa Adam juga mengalami proses seperti Isa as. Padahal, perhatikan baik-baik lanjutan ayatnya:
خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ
Terjemah:
"Dia menciptakannya dari tanah."
Jadi, ketika Allah menjelaskan persamaan Adam dan Isa, Allah justru menyebut penciptaan Adam dari tanah. Lalu apa persamaannya? Isa as lahir tanpa ayah. Adam as bahkan diciptakan tanpa ayah dan tanpa ibu.
Maka jika kelahiran Isa tanpa ayah dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa Isa adalah Tuhan, alasan tersebut tidak masuk akal. Sebab Adam lebih luar biasa lagi, ia tidak mempunyai ayah dan ibu. Meski demikian tidak ada yang mengatakan bahwa Adam itu Tuhan.
Dengan kata sederhana; Isa: tanpa ayah, Adam: tanpa ayah dan tanpa ibu. Keduanya sama-sama menunjukkan kekuasaan Allah yang mampu menciptakan manusia dengan cara yang tidak biasa.
3. Al-Qur’an Menyebut Adam Diciptakan dari Tanah
Allah Swt berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
Terjemah:
"Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat’.". (QS. Ṣād: 71).
Allah Swt juga berfirman:
إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ
Terjemah:
"Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (QS. Al-Ḥijr: 28).
Kemudian Allah Swt berfirman:
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Terjemah:
"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan Aku telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud." (QS. Al-Ḥijr: 29).
Gambaran Al-Qur’an sangat jelas: Adam diciptakan dari tanah, lalu disempurnakan bentuknya, kemudian Allah meniupkan ruh kepadanya. Tidak disebutkan bahwa Adam dikandung atau dilahirkan oleh seorang ibu.
4. Bagaimana dengan Kata "Basyar"?
Pendapat lain mengatakan bahwa sebelum Adam sudah ada makhluk yang disebut بَشَر (basyar), sedangkan Adam kemudian menjadi إِنْسَان (insan). Tetapi apakah basyar berarti manusia pra-Adam? Tidak sesederhana itu. Al-Qur’an sendiri menyebut Nabi Muhammad Saw sebagai basyar:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ
Terjemah:
"Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang telah menerima wahyu.’" (QS. Al-Kahfi: 110).
Jadi, kata بَشَر juga digunakan untuk manusia yang sempurna, bahkan untuk Rasulullah Saw. Karena itu, tidak tepat jika hanya berdasarkan kata basyar kemudian dibuat kesimpulan: "Basyar adalah manusia purba sebelum Adam". Untuk membuat kesimpulan seperti itu diperlukan dalil yang lebih kuat.
5. Jangan Memaksakan Teori ke dalam Ayat
Di sinilah kritik terhadap metode pembacaan modern menjadi penting. Abbas Syarifah menjelaskan bahwa perbedaan lafaz memang bisa menunjukkan perbedaan makna, tetapi tidak berarti setiap kata harus dianggap menunjuk kepada hakikat atau jenis yang sama sekali berbeda. Ia mengatakan:
فإن اختلاف مبنى اللفظ يؤدي إلى اختلاف بالمعنى ـ من حيث الزيادة فيه أو النقصان منه وليس لاختلافه تمامًا إلى درجة التباين التام
Terjemah:
"Perbedaan bentuk lafaz memang dapat menyebabkan perbedaan makna, baik berupa tambahan maupun pengurangan makna, tetapi bukan berarti perbedaannya sampai pada tingkat dua makna yang sama sekali berbeda." (Naqḍ Manhajiyyah al-Qirā’ah al-Mu‘āṣirah, hlm. 22).
Dengan bahasa sederhana: Tidak setiap perbedaan kata berarti perbedaan jenis makhluk.
6. Bagaimana dengan Teori Evolusi?
Di sini kita perlu berhati-hati. Membahas teori evolusi adalah satu persoalan. Membahas bagaimana Adam diciptakan adalah persoalan lain. Kalaupun seseorang berpendapat bahwa pernah ada makhluk mirip manusia sebelum Adam, hal itu belum otomatis membuktikan bahwa:
Adam dilahirkan dari seorang ibu. Sebab Al-Qur’an secara khusus menyebut penciptaan Adam dari tanah:
خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ
Terjemah:
"Dia menciptakannya dari tanah."
Karena itu, tidak boleh langsung mengambil sebuah teori ilmiah kemudian memaksa ayat Al-Qur’an agar sesuai dengannya.
Abbas Syarifah menjelaskan prinsip yang sangat penting:
لا يمكن للنص القرآني أن يخالف حقيقة علمية ثابتة... أو أن الحقيقة العلمية لازالت في طور النظرية الظنية
Terjemah:
"Tidak mungkin teks Al-Qur’an bertentangan dengan fakta ilmiah yang benar-benar pasti. Namun, bisa saja fakta ilmiah tersebut masih berada pada tahap teori yang bersifat dugaan..." (Naqḍ Manhajiyyah al-Qirā’ah al-Mu‘āṣirah, hlm. 29).
Artinya, kita tidak perlu mempertentangkan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan. Tetapi kita juga tidak boleh mengubah makna ayat hanya agar cocok dengan teori yang belum pasti.
Kesimpulan
Apakah Nabi Adam as mempunyai ibu? Menurut pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsir ulama yang telah dikenal dalam tradisi Islam: tidak. Adam as diciptakan Allah secara khusus dari tanah, bukan dilahirkan melalui seorang ibu. Allah Swt berfirman:
خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ
Terjemah:
"Dia menciptakannya dari tanah."
Sedangkan pernyataan bahwa Adam lahir dari seorang ibu merupakan penafsiran modern yang dibangun melalui pendekatan tertentu terhadap bahasa Al-Qur’an dan dan mengabaikan konsensus (ijma') para sahabat dan ulama yang telah terjaga selama berabad-abad. Secara ilmiah Islam, teori ini dinyatakan gugur dan batil.
Adapun apakah sebelum Adam terdapat makhluk lain yang menyerupai manusia, itu merupakan pembahasan yang berbeda. Jangan mencampuradukkan dua persoalan tersebut.
Yang terpenting adalah memahami Al-Qur’an dengan hati-hati: jangan sampai teori yang masih berubah-ubah justru dijadikan hakim untuk mengubah makna ayat yang telah dijelaskan secara tegas. Wallahu a'lam bish-shawab. [dutaislam.or.id/ab]
Riyadlul Jinan, Mahasantri Ma'had Aly Yanbu'ul Quran, Kudus






