![]() |
| Kesombongan penghalang kebenaran. |
Oleh Makruf Han
Dutaislam.or.id - Kesombongan bukan sekadar merasa diri lebih tinggi daripada orang lain. Dalam pandangan syariat, kesombongan memiliki hakikat yang jauh lebih berbahaya. Nabi Saw menjelaskan:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
"Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia".
Dengan demikian, kesombongan memiliki dua sisi: menolak kebenaran ketika ia datang, serta meremehkan manusia yang menyampaikannya.
Inilah sebabnya kesombongan menjadi salah satu penghalang terbesar seseorang untuk menerima kebenaran. Bahkan, kesombongan merupakan akar dari banyak kesesatan manusia. Seseorang bisa saja telah melihat dalil dengan jelas, memahami bukti dengan terang, bahkan mengetahui bahwa pendapat yang dihadapinya memang benar. Namun karena hatinya dikuasai kesombongan, ia tetap enggan tunduk.
Perhatikan kisah Iblis. Ia tidak menolak perintah Allah karena tidak mengetahui perintah tersebut. Ia mengetahui dengan jelas bahwa Allah memerintahkannya untuk bersujud kepada Adam. Namun kesombongan membuatnya enggan menaati perintah itu. Allah Ta'ala berfirman:
أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
"Dia enggan dan menyombongkan diri, maka jadilah dia termasuk golongan orang-orang kafir". (QS. Al-Baqarah: 34)
Iblis merasa dirinya lebih tinggi. Ia berkata, "Aku lebih baik darinya". Perasaan lebih baik itulah yang membuatnya menolak perintah Allah. Akhirnya, kesombongan menyeretnya kepada kekufuran.
Dari sini kita dapat memahami bahwa seseorang tidak selalu menolak kebenaran karena tidak mengetahui kebenaran tersebut. Terkadang seseorang menolaknya justru karena ia merasa terlalu tinggi untuk tunduk kepadanya.
Orang yang bodoh memang bisa saja belum menerima kebenaran karena ilmu belum sampai kepadanya. Akan tetapi, apabila kebenaran telah dijelaskan kepadanya, lalu Allah memberinya sikap adil dan hati yang lapang, ia masih memiliki kesempatan besar untuk menerimanya.
Berbeda dengan orang yang sombong. Ketika kesombongan telah menguasai hati, ilmu yang seharusnya menjadi jalan menuju kebenaran justru tidak memberikan manfaat. Ia bisa mengetahui, tetapi tidak mau tunduk. Ia bisa memahami, tetapi tidak mau mengakui. Ia bisa melihat kesalahan dirinya, tetapi terlalu berat untuk mengatakan, "Saya keliru".
Kebodohan pada dasarnya masih bisa diobati dengan belajar. Orang yang tidak tahu dapat diberi penjelasan. Orang yang belum memahami dapat diajari. Ketika ilmu sampai kepadanya dan hatinya terbuka, ia dapat berubah. Namun kesombongan membuat seseorang menolak obat sebelum menggunakannya.
Ilmu datang, tetapi ia menolaknya. Nasihat diberikan, tetapi ia merasa tidak membutuhkannya. Dalil disampaikan, tetapi ia sibuk mencari alasan untuk mempertahankan pendapatnya. Bahkan ketika kesalahan datang dari dirinya sendiri, ia lebih memilih mempertahankan gengsi daripada kembali kepada kebenaran.
Karena itu, kesombongan jauh lebih berbahaya daripada sekadar kebodohan.
Kebodohan menghalangi seseorang karena tidak tahu, sedangkan kesombongan menghalanginya untuk mau tahu dan mau menerima. Allah Ta'ala berfirman:
إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ
"Tidak ada dalam dada mereka selain kesombongan yang sekali-kali tidak akan mereka capai". (QS. Ghafir: 56)
Al-Qur'an memberikan banyak contoh tentang orang-orang yang mengetahui atau melihat kebenaran, tetapi tetap menolaknya karena kesombongan. Iblis adalah contoh pertama. Kesombongan membuatnya menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Ia merasa dirinya lebih baik sehingga tidak mau tunduk.
Fir'aun juga demikian. Ia menolak dakwah Nabi Musa as, padahal tanda-tanda kebenaran yang dibawa Musa telah nyata. Allah Ta'ala berfirman:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا
"Mereka mengingkarinya, padahal hati mereka meyakini kebenarannya, karena kezhaliman dan kesombongan".(QS. An-Naml: 14)
Ayat ini menunjukkan keadaan yang sangat mengerikan: hati mereka sebenarnya meyakini kebenaran, tetapi kesombongan membuat lisan dan sikap mereka tetap mengingkarinya.
Demikian pula Abu Jahal dan para pembesar Quraisy. Banyak di antara mereka mengenal kejujuran Nabi Saw dan memahami bahwa beliau bukanlah pendusta. Namun kecintaan kepada kedudukan, pengaruh, dan kepemimpinan membuat mereka enggan mengikuti beliau. Mereka bahkan mengatakan:
أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
"Ini hanyalah dongeng orang-orang terdahulu".
Padahal Allah Ta'ala berfirman:
فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَٰكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ
"Sesungguhnya mereka tidak mendustakan engkau, tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah". (QS. Al-An'am: 33).
Begitu pula sebagian orang-orang Yahudi yang mengenal Nabi Muhammad Saw. Mereka mengetahui sifat-sifat beliau dari kitab yang mereka miliki. Bahkan Allah menggambarkan pengetahuan mereka terhadap beliau seperti pengetahuan seseorang terhadap anaknya sendiri:
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ
"Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri". (QS. Al-Baqarah: 146).
Namun pengetahuan tersebut tidak otomatis membuat mereka beriman. Dengki, kesombongan, dan keengganan untuk tunduk kepada kebenaran menjadi penghalang. Contoh lainnya adalah kaum 'Ad. Mereka memiliki kekuatan dan merasa besar di muka bumi. Kesombongan membuat mereka menolak dakwah Nabi Hud as. Allah Ta'ala berfirman:
فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ
"Adapun kaum 'Ad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar". (QS. Fushshilat: 15).
Semua kisah tersebut menunjukkan satu pelajaran penting: kesombongan dapat membuat seseorang menolak sesuatu yang sebenarnya telah ia ketahui sebagai kebenaran.
Karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari sifat sombong. Terlebih bagi seorang penuntut ilmu. Semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, seharusnya semakin besar pula ketundukannya kepada kebenaran, bukan semakin sulit menerima nasihat.
Sikap yang semestinya dimiliki seorang penuntut ilmu adalah tawadhu' kepada kebenaran dan menerimanya dari siapa pun yang menyampaikannya. Tidak peduli apakah kebenaran itu datang dari orang yang lebih tua ataupun lebih muda, orang yang lebih tinggi kedudukannya ataupun lebih rendah, bahkan dari seseorang yang sebelumnya tidak ia sukai. Sebab ukuran kebenaran bukanlah siapa yang mengatakannya, tetapi apakah yang dikatakan itu benar atau tidak.
Jangan sampai seseorang menolak sebuah nasihat hanya karena datang dari orang yang dianggap lebih rendah darinya. Jangan pula seseorang mempertahankan pendapat hanya karena sebelumnya ia telah menyampaikannya kepada banyak orang. Mengakui kesalahan bukanlah kehinaan. Justru kembali kepada kebenaran adalah kemuliaan.
Kesombongan mungkin membuat seseorang terlihat kuat di hadapan manusia, tetapi pada hakikatnya ia sedang menghancurkan dirinya sendiri. Sebaliknya, tawadhu' mungkin membuat seseorang harus mengakui kekurangan dan kesalahannya, tetapi justru dari sanalah pintu ilmu, hidayah, dan keselamatan terbuka.
Marilah kita menjaga hati. Jangan hanya memohon kepada Allah agar diberi ilmu, tetapi mohon pula agar diberi kerendahan hati untuk menerima ilmu tersebut. Jangan hanya meminta agar ditunjukkan kebenaran, tetapi mintalah kekuatan untuk tunduk kepadanya ketika kebenaran itu telah jelas.
Karena tidak sedikit orang yang gagal bukan karena tidak pernah melihat kebenaran, melainkan karena kesombongan membuatnya tidak mau tunduk kepada kebenaran. [dutaislam.or.id/ab]






